Kamis, 02 Juli 2015

Wakaf Dan Ekonomi Hijau


Wakaf yang dimaksud dalam tulisan ini adalah wakaf produktif. Sesuai dengan asal kata wakaf sendiri, secara bahasa memiliki arti yaitu menahan, mencegah, menghentikan, dan berdiam di tempat. Secara istilah wakaf menurut sebagian ulama yaitu menahan harta yang dapat dimanfaatkan dengan tetap menjaga keutuhan barangnya, terlepas dari campur tangan wakif atau lainnya, dan hasilnya disalurkan untuk kebaikan semata – mata untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sedangkan menurut UU No. 41 Tahun 2004 wakaf adalah perbuatan hukum seseorang atau sekelompok orang atau badan hukum yang memisahkan sebagian harta benda miliknya dan melembagakannya untuk selama – lamanya guna kepentingan ibadah atau keperluan umum lainnya sesuai dengan ajaran agama Islam.
Kemudian kata produktif sendiri sesuai dengan kamus bahasa Indonesia mimiliki arti mampu menghasilkan, menguntungkan, dan memberi manfaat. Sehingga wakaf produktif dapat didefinisikan menahan atau memisahkan sebagian harta untuk dapat dimanfaatkan dan dapat menghasilkan keuntungan (surplus wakaf) untuk selanjutnya dapat diberikan kepada orang yang membutuhkan. Saat ini potensi wakaf di Indonesia sendiri cukup besar, misalkan jumlah penduduk muslim di Indonesia yang sadar dan mau berwakaf produktif berjumlah 10.000.000 (sepuluh juta) orang, dan setiap orang berwakaf Rp.100.000,- (seratus ribu rupiah) per bulan, maka dalam satu tahun akan terkumpul dana wakaf sebesar Rp.12 triliun, dan seterusnya. Maka tidak heran, jika salah satu instrumen ekonomi Islam ini digunakan, selain mendapatkan pahala berwakaf yang terus mengalir, juga akan dapat membantu memecahkan permasalahan perekonomian ummat yang saat ini sangat memperhatinkan. Mengapa wakaf hanya salah satu dari intrumen ekonomi Islam, karena masih banyak instrumen – intrumen ekonomi Islam yang juga memiliki potensi untuk meningkatkan kesejahteraan dan perekonomian ummat diantaranya, lembaga keuangan syariah, zakat, lembaga keungan mikro syariah (BMT), bisnis syariah, dan lain sebagainya. Akan tetapi, disini lebih ditekankan kepada potensi wakaf produktif untuk membangun perekonomian ummat.
Ekonomi hijau merupakan istilah bagi perekeonomian yang sudah atau baru menuju kondisi stabil. Ekonomi hijau disini dapat bermula dari usaha  - usaha mikro,usaha rumahan (home industry), atau industri kreatif. Apakah wakaf produktif dapat menumbuhkan usaha – usaha tersebut ? jawabannya insyaAllah bisa selama dana wakaf tersebut dikelola dengan amanah dan profesional oleh lembaga nadzir. Seperti contoh, misalkan dana wakaf produktif yang terkumpul sebesar Rp.12 triliun dibangunkan sebuah apartemen di tengah kota atau rumah sakit Islam bertaraf internasional, maka hasil dari usaha tersebut yang menjadi surplus wakaf dapat digunakan untuk pengembangan sektor ekonomi mikro sebagai pinjaman kebaikan (qardhul hasan) atau dengan metode bagi hasil (mudharabah, musyarakah). Di samping ummat Islam memiliki asset sendiri yang berupa bangunan atau sejenisnya, mereka yang berwakaf juga dapat membantu sesama yang membutuhkan.
Pemerintah Indonesia sudah memberikan informasi bahwa Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) akan berlangsung mulai akhir tahun 2015. Hal ini menandakan persaingan baik dari segi ekonomi, budaya, SDM, dan teknogi terbuka lebar bagi seluruh masyarakat ASEAN. Apalagi ditambah beberapa kebijakan pemerintah saat ini yang pro terhadap asing, maka pondasi dasar perekonomian Indonesia harus kuat. Jika daya saing dan daya beli masyarakat kuat, maka insyaAllah tujuan bersama yaitu falah (kebahagiaan) baik di dunia maupun akhirat akan segera terwujud.

Wakaf produktif insyaAllah akan dapat menjadi salah satu solusi untuk memecahkan permasalahan perekonomian bangsa Indonesia, dengan syarat yaitu pertama harus ada dukungan penuh dari pemerintah, dewan legeslatif, dan masyarakat Indonesia sendiri. Kedua, dana wakaf yang terkumpul dikelola oleh nadzir yang memiliki integritas dan profesional. Ketiga, program edukasi dan sosialisasi secara istiqomah dilakukan oleh semua pihak yang berkepentingan. Jika hal – hal tersebut dapat diperhatikan oleh semua pihak, maka Indonesia dapat tumbuh menjadi negara yang memiliki basis ekonomi Islam yang kuat dengan didukung perekonomian masyarakat yang kuat pula sehingga semuanya dapat tumbuh bersama dan kita dapat mengambil berkahnya. Wallahua’lam

Selasa, 18 Februari 2014

Keutamaan Menolong Orang Lain

Akhir  - akhir ini ramai di media cetak maupun elektronik berita tentang penindasan dan pembunuhan umat Islam baik dilakukan oleh umat Islam sendiri maupun umat agama lain. Fenomena ini menjadi perhatian seluruh dunia. Tapi tidak ada satupun yang berani melantangkan bahwa itu merupakan kejahatan internasional dan tindakan tidak manusiawi. Islam sejak awal telah mengajarkan kepada seluruh ummatnya, bahwa seluruh muslim merupakan saudara bahkan diibaratkan seperti tubuh manusia. Jika ada anggota badan yang sakit, maka yang lain pun ikut merasakan sakit. Sebagaimana hadist nabi yang diriwayatkan Bukhori dari An-Nu’man bin Basyir berkata, Nabi SAW. bersabda, “Anda akan melihat kaum mukminin dalam kasih sayang dan cinta-mencintai, pergaulan mereka bagaikan satu badan, jika satu anggotanya sakit, maka menjalarlah kepada lain-lain anggota lainnya sehingga badannya terasa panas dan tidak dapat tidur”.
Allah SWT telah menyatakan dalam Al –Qur’an bahwa Allah adalah dzat yang telah mempersatukan hati kita. Ini merupakan ni’mat yang Allah berikan kepada hamba – Nya yang beriman. Hal ini Allah sampaikan melalui firman – Nya dalam QS. Ali – Imran ayat 103 yang artinya “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu Karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” Allah memerintahkan kepada orang – orang beriman untuk tetap berpegang teguh kepada agama Allah, jangan sekali – kali kita melalaikanya.
Sudah saatnya umat Islam di seluruh dunia bersatu dan merapatkan barisan agar musuh – musuh Islam sulit memecahbelah. Persaudaraan ummat Islam yang dilandasi dengan cinta karena Allah akan terasa manis dan indah. Hati akan selalu memberikan tempat untuk saudara kita jika kita sudah merasakan masinnya iman. Kesulitan yang dialami saudara – saudara kita dibelahan bumi manapun, kita dapat merasakan dan membantu mereka dengan kemampuan yang kita miliki nisacaya Allah akan memberikan balasan yang berlipat. Dari Abu Hurairah ra. Rasulullah SAW bersabda “Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba – Nya selama hamba – Nya itu suka menolong saudaranya”. (HR. Muslim)
Rasulullah SAW telah mencontohkan bagaimana kita seharusnya berperilaku terhadap sesama yaitu menolong dean meringankan beban orang lain. Pada suatu hari Rasululah SAW ditanya oleh sahabat beliau : “Ya Rasulullah,  siapakah manusia yang paling dicintai Allah dan apakah perbuatan yang paling  dicintai oleh Allah ? Rasulullah SAW menjawab : “Manusia yang paling dicintai oleh  Allah adalah manusia yang paling banyak bermanfaat dan berguna bagi manusia  yang lain; sedangkan perbuatan yang paling dicintai Allah adalah memberikan  kegembiraan kepada orang lain atau menghapuskan kesusahan orang lain, atau  melunasi hutang orang yang tidak mampu untuk membayarnya, atau memberi makan  kepada mereka yang sedang kelaparan dan jika seseorang itu berjalan untuk  menolong orang yang sedang kesusahan itu lebih aku sukai daripada beri’tikaf di  masjidku ini selama satu bulan ” ( HR. Thabrani ).  

Apabila kita mampu untuk melakukan itu, maka segeralah kita lakukan dengan niat hanya untuk mencari ridho Allah SWT semata. Karena pertolongan yang kita berikan walapun sedikit dan tidak dalam bentuk materi, maka itu merupakan kebahagiaan tersendiri untuk kita dan orang lain. Cobalah bayangkan, bagaimana rasanya apabila kita berada di posisi orang yang meminta pertolongan pada kita, Dan sungguh Allah SWT sangat mencintai orang yang mau memberikan kebahagiaan kepada orang lain dan menghapuskan kesulitan orang lain. Wallahua’lam.