Jumat, 12 November 2010

Allah Sebagai Saksi dan Penjamin

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Rasulullah saw., beliau bercerita, "Sesungguhnya ada seorang Bani Israel yang memohon kepada Bani Israel lainnya untuk meminjaminya uang seribu dinar. Orang yang meminjamkan berkata, 'Datangkanlah saksi-saksi. Aku ingin mempersaksikan peminjaman ini kepada mereka.' Peminjam berkata, 'Cukuplah Allah sebagai saksinya.' Orang yang meminjamkan berkata, 'Datangkanlah seorang penjamin.' Peminjam berkata, 'Cukuplah Allah sebagai penjamin.' Orang yang meminjamkan berkata, 'Kamu benar.' Kemudian dia memberikan uang itu hingga tempo tertentu.

Peminjam uang pergi ke laut untuk memenuhi hajatnya. Kemudian dia merasa sangat membutuhkan perahu untuk mengantarkan uang pinjamannya yang sudah jatuh tempo pembayarannya. Namun, dia tidak menemukannya. Kemudian dia mengambil kayu dan melubanginya. Lalu dia memasukkan ke dalamnya uang seribu dinar berikut secarik tulisan yang ditujukan kepada pemilik uang. Kemudian melapisinya agar tidak terkena air. Lalu dia membawa kayu ke laut. Dia berkata, 'Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa saya telah meminjam uang seribu dinar kepada si Fulan. Dia meminta penjamin dariku, kemudian kukatakan bahwa cukuplah Allah sebagai penjamin, dan dia pun rela. Dia memintaku mendatangkan saksi, lalu kukatakan bahwa cukuplah Allah sebagai saksi, dan dia pun rela. Sesungguhnya aku telah berusaha untuk mendapatkan perahu yang akan kugunakan untuk mengantarkan uangku kepadanya, namun aku tidak mendapatkannya. Kini, kutitipkan uang itu kepada-Mu.' Kemudian dia melemparkan kayu itu hingga tenggelam. Dia pun pergi. Walau demikian, dia tetap berusaha mencari perahu yang menuju ke negeri orang yang meminjamkan.

Kini, orang yang meminjamkan uang pergi untuk menanti. Barangkali ada perahu datang membawa piutangnya. Tiba-tiba dia menemukan kayu yang berisi uang itu. Dia membawanya pulang sebagai kayu bakar untuk istrinya. Tatkala dia membelahnya, dia menemukan uang dan secarik pesan. Di lain pihak, si peminjam pun datang juga membawa seribu dinar. Dia berkata, 'Demi Allah, sebelum aku datang sekarang, aku senantiasa berusaha untuk mendapatkan perahu guna mengantarkan pinjaman kepadamu.' Orang yang meminjamkan berkata, 'Apakah kamu mengirimkan sesuatu kepadaku?' Peminjam berkata, 'Bukankah telah kuceritakan kepadamu bahwa aku tidak menemukan perahu, sebelum saya mendapatkannya sekarang ini?' Orang yang meminjamkan berkata, 'Sesungguhnya Allah telah mengantarkan pinjamanmu yang kau taruh dalam kayu. Maka gunakanlah uangmu yang seribu dinar itu dengan baik."

Sanad riwayat ini sahih. Al-Bukhari meriwayatkan pula kisah ini dalam bentuk yang ketat.

sumber : kisah-kisah islam.help by heksa

Jumat, 05 November 2010

Idul Adha, Arti Sebuah Ketaatan dan Kesabaran

Hari raya Idul Adha merupakan hari raya kedua setelah Idul Fitri. Seluruh umat Islam di dunia ini menyambut keduanya dengan seruan takbir, tahmid, tahlil kepada Allah yang Maha Besar. Dalam bulan Dzulhijjah terdapat suatu ibadah yang akan menyempurnakan rukun Islam seorang muslim yakni ibadah haji ke Baitullah. Umat Islam sedunia menunaikan panggilan Rabb mereka dalam bentuk ketaatan, kesabaran, dan keikhlasan dalam melaksanakan ibadah haji tersebut. Dan dambaan setiap orang yang berhaji adalah mendapatkan gelar dari Allah yaitu menjadi haji yang mabrur.
Lalu, dalam bulan Dzulhijjah pula Allah SWT menyuruh hambanya untuk berkurban. Hal ini bermula dari bagaimana nabi Ibrahim as bermimpi untuk menyembelih putranya nabi Ismail as. Ini adalah perintah dari Allah azza wajalla sebagaimana firman – Nya dalam QS. As - Shaaffaat : 102 yang artinya “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Nabi Ibrahim sebagai rasul mempunyai tugas untuk menyampaikan risalah Illahi kepada umatnya. Disamping itu, ketaatan dan kesabaran beliau menjadi salah bukti bahwa nabi Ibrahim patut menjadi suri tauladan. Bagaimana reaksi masyarakat kala itu ketika kalimat Allah mulai ditegakkan. Banyak sekali cobaan dan rintangan yang beliau hadapi. Dan salah satunya adalah peristiwa penyembelihan putra beliau nabi Ismail as yang dilakukan pada bulan dzulhijjah.
Dari sini kita dapat menarik kesimpulan, bahwa bagaimana ketaatan nabi Ibrahim dan nabi Ismail dalam menjalankan perintah Allah SAW. Dan bagaimana pula kesabaran nabi Ismail sehingga ia berkata kepada bapaknya bahwa nabi Ibrahim akan mendapatinya termasuk orang – orang yang sabar.
Nabi Muhammad SAW pun mempunyai ketaatan dan kesabaran seperti nabi Ibrahim as dan nabi Ismail as. Maka, sepatutnya kita sebagai umat nabi Muhammad SAW mencontoh dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari – hari. Sebagai khalifah di muka bumi ini kita seharusnya menjaga amanah yang telah diberikan Allah SWT kepada kita. Dengan penuh ketaatan dan kesabaran amanah itu akan terasa indah karena kita melakukan hal tersebut untuk mencari ridho Allah SWT.
Saat ini para pemimpin yang ada seharusnya dan sepatutnya mencontoh nabi Ibrahim dan nabi Ismail dalam ketaatan kepada Rabb dan dalam kesabaran di setiap cobaan yang Allah SWT berikan. Jangan terlena terhadap nafsu duniawi dan mengembalikan semua yang terjadi kepada pemilik hidup ini. Hidup ini akan terasa indah jika setiap hembusan nafas kita dihiasi dengan ketaatan, ketaqwaan, serta kesabaran. Sehingga kita tidak hanya simbolis memperingati hari raya kurban ini dengan menyembelih hewan akan tetapi jauh dari itu untuk menjadi hamba Allah SWT yang taat, patuh, terhadap apa yang telah ditetapkan dan sabar dalam setiap cobaan yang diberikan Allah SWT kepada kita, karena yakinlah bahwa ini semua adalah bentuk ujian dari Allah SWT agar kita menjadi hamba- Nya yang kelak mendapat surga Allah Azza wajalla. Amiin yaa rabbal ‘alamin.

Ciputat, 27 November 2009/ 10 Dzulhijjah 1430 H
Pkl. 17.33 WIB 

Minggu, 31 Oktober 2010

Air Mata yang Menuntun ke Surga


REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Dua ilmuwan pernah melakukan penelitian disertasi tentang air mata. Kedua peneliti tersebut berasal dari Jerman dan Amerika Serikat. Hasil penelitian kedua peneliti itu menyimpulkan bahwa air mata yang keluar karena tepercik bawang atau cabe berbeda dengan air mata yang mengalir karena kecewa dan sedih.

Air mata yang keluar karena tepercik bawang atau cabe ternyata tidak mengandung zat yang berbahaya. Sedangkan, air mata yang mengalir karena rasa kecewa atau sedih disimpulkan mengandung toksin, atau racun. Kedua peneliti itu pun merekomendasikan agar orang-orang yang mengalami rasa kecewa dan sedih lebih baik menumpahkan air matanya. Sebab, jika air mata kesedihan atau kekecewaan itu tidak dikeluarkan, akan berdampak buruk bagi kesehatan lambung.

Menangis itu indah, sehat, dan simbol kejujuran. Pada saat yang tepat, menangislah sepuas-puasnya dan nikmatilah karena tidak selamanya orang bisa menangis. Orang-orang yang suka menangis sering kali dilabeli sebagai orang cengeng. Cengeng terhadap Sang Khalik adalah positif dan cengeng terhadap makhluk adalah negatif.

Orang-orang yang gampang berderai air matanya ketika terharu mengingat dan merindukan Tuhannya, air mata itu akan melicinkannya menembus surga. Air mata yang tumpah karena menangisi dosa masa masa lalu akan memadamkan api neraka.

Hal ini sesuai dengan hadis Nabi, "Ada mata yang diharamkan masuk neraka, yaitu mata yang tidak tidur semalaman dalam perjuangan fisabilillah dan mata yang menangis karena takut kepada Allah."

Seorang sufi pernah mengatakan, jika seseorang tidak pernah menangis, dikhawatirkan hatinya gersang. Salah satu kebiasaan para sufi ialah menangis. Beberapa sufi mata dan mukanya menjadi cacat karena air mata yang selalu berderai.

Tuhan memuji orang menangis. "Dan, mereka menyungkurkan wajah sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk." (QS Al-Isra' [17]:109). Nabi Muhammad SAW juga pernah berpesan, "Jika kalian hendak selamat, jagalah lidahmu dan tangisilah dosa-dosamu."

Ciri-ciri orang yang beruntung ialah ketika mereka hadir di bumi langsung menangis, sementara orang-orang di sekitarnya tertawa dengan penuh kegembiraan. Jika meninggal dunia ia tersenyum, sementara orang-orang di sekitarnya menangis karena sedih ditinggalkan.

Tampaknya, kita perlu membayangkan ketika nanti meninggal dunia, apakah akan lebih banyak orang mengiringi kepergian kita dengan tangis kesedihan atau dengan tawa kegembiraan.

Jika air mata kerinduan terhadap Tuhan tidak pernah lagi terurai, apalagi jika air mata selalu kering di atas tumpukan dosa dan maksiat, kita perlu segera melakukan introspeksi. Apakah mata kita sudah mulai bersahabat dengan surga atau neraka.
Red: Budi Raharjo
Rep: Oleh Prof Nasaruddin Umar

Kamis, 28 Oktober 2010

Manusia terbaik disisi Allah

Allah SWT telah menciptakan sesuatu yang ada di bumi ini agar dapat memberi manfaat satu sama lain. Baik binatang dan tumbuh – tumbuhan semua diciptakan pasti ada tujuannya. Begitupun tujuan diciptakannya manusia oleh Allah Azza wajalla pasti ada maksud dan tujuannya. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al – Qur’an Surat Adz – Dzaariyaat ayat 56 yang artinya “ Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” Maka jelaslah tujuan kita hidup di dunia ini yaitu untuk menjadi hamba Allah yang bertaqwa dan selalu berbuat ihsan. Manusia sebagai makhluk yang diberi akal agar dapat berfikir tentang apa yang ada disekitarnya. Hal ini bertujuan agar manusia juga tahu tentang manfaat lingkungan sekitarnya. Air, udara, dan segala sesuatu yang ada dimuka bumi ini adalah untuk kelangsungan hidup manusia.
Manusia juga mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki oleh makhluk lain. Kelebihan itu diberikan secara khusus oleh Allah SWT kepada manusia. Allah berfirman yang artinya “sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (Q.S. At – Tiin : 4). Oleh karenanya kita harus bersyukur dan tahu diri karena kita adalah sebaik – baik makhluk Allah. Dengan cara apa kita bersyukur ? jawabannya adalah seperti diatas yaitu kita tingkatkan hubungan vertikal kepada Dzat yang Maha Bijaksana dengan cara meningkatkan nilai ibadah baik mahdzoh atau ghairu mahdzoh.  Selain itu juga kita harus memperbaiki hubungan kita kepada manusia (hablu minannas) baik yang kita kenal maupun tidak kita kenal. Akan tetapi, kita harus mulai dari diri sendiri sebagaimana dalam pepatah arab yang artinya “ Perbaikilah dirimu niscaya orang akan baik kepadamu “. Kita dituntut untuk seberapa besar kita dapat bermanfaat bagi orang lain. Jika kita merujuk dalam dinnul Islam, maka kita menemukan suatu system yang indah yang tidak ada dalam agama lain.
Rasulullah SAW bersabda yang artinya “ Sebaik – baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya,”. Kita tidak sadar bahwasanya ada saudara kita yang membutuhkan bantuan dan pertolongan serta uluran tangan dari saudaranya yang memiliki kelebihan dan berkecukupan. Sebagai contoh beberapa tahun yang lalu saudara kita se- aqidah yang ada di bumi Aceh terkena musibah Tsunami yang menelan begitu banyak korban jiwa dan juga banyak masyarakat yang trauma serta tinggal di tenda – tenda pengungsian. Belum lagi banjir yang melanda hampir seluruh negeri, tanah longsor, kebakaran hutan, dan masih banyak lagi peringatan Allah kepada hamba – Nya yang lalai. Dari peristiwa – peristiwa disekitar kita harusnya dapat menjadi pelajaran dan kita ambil I’tibar dari semua yang terjadi. Sebagai seorang mukmin kita harus menolong dan meringankan kesusahan saudaranya. Dengan kesadaran hati diiringi dengan keikhlasan kita berikan bantuan sebesar dan sekuat mungkin sesuai dengan kemampuan yang Allah anugrahkan kepada kita.
InsyaAllah dengan bekal ruhiyyah dan jasadiyyah yang ada pada seorang hamba yang didampingi dengan sikap Ihsan, maka niscaya hidup ini menjadi bermakna dan indah dengan sikap saling tolong – menolong hanya untuk menegakkan dinnul Islam. Perjalanan hidup manusia di dunia ini adalah untuk mengumpulkan bekal yang akan kita bawa kelak di akhirat. Oleh karenanya, perlu persiapan yang matang yang dimulai dengan hal yang mudah tapi begitu besar dampaknya yaitu bagaimana kita dapat memberi manfaat terhadap orang lain. Kita lihat Rasulullah SAW bagaimana beliau peduli terhadap orang lain baik kalangan sahabat, kawan, maupun lawan. Dengan sikap beliau seperti itu maka Islam dapat diterima dan mendapatkan kejayaan serta menjadi agama yang benar – benar rahmatal lil ‘alamaiin.   Wallahua’lam.

UMMI

UMMI engkaulah wanita yang mulia. Begitu besar jasa  - jasamu terhadap kami. Kesabaran dan keikhlasanmu tak tergantikan dengan emas permata.  Ya Rabb…. Ampunilah segala dosa – dosanya, bahagiakanlah ia, sayangilah ia selalu seperti kasih sayangnya kepada kami yang tidak putus sepanjang masa. Aku ingin sekali menulis sebuah puisi untukmu UMMI.

SURAT CINTA BUAT UMMI
Kuingin membuat surat untuk orang tercinta
Kucari-cari 1000 kata dikamus asmara
Kupilih-pilih kertas yang penuh bunga
Kutulis dengan tinta kasturi yang penuh harumnya
Kuikutsertakan hatiku di dalamnya sehingga penuh rasa

Kubungkus dengan amplop putih tanpa setitikpun noda
Kutempelkan perangko ‘KILAT GRATIS’ pemberian-Nya
Kutitipkan pada malam yang sedang menyelimuti kelelapannya
Untuk disampaikan kepada mimpi yang kebetulan sedang melewati tidurnya

Hanya 5 baris saja isinya
“ Syukurku pada Allah dan orangtuaku “
“ baktiku pada Ummi
“ baktiku pada Ummi
“ baktiku pada Ummi
“ baktiku pada Abi”

UMMI do’akan kami semoga menjadi orang yang engkau banggakan. Menjadi anak yang sholeh dan sholehah, anak yang menjadi harapan agama, bangsa dan negara. Amiin….

 (by. anak yang ingin menjadi permata hati untuk kedua orang tua)

Selasa, 26 Oktober 2010

Rasa syukur ku kepada Engkau yaa Alloh

Ku buka mata ini, lalu ku lihat dunia
Mata hati semakin peka, saat ku dekati ciptaan- Nya
Hati ku bertambah yakin, saat ku rasakan indah kalam- Nya
Alhamdilillah yaa Rabb ku masih bisa hidup sampai saat ini

Tasbih ku kepada-Nya takkan pernah pudar
Tahmid ku terhadap- Nya kan selalu tetap ku ucap
Ku nikmati segala ciptaan- Nya
Dan ku bersyukur atas segala nikmat- Nya

Alloh Engkau s’lalu menjaga ku disaat aku sendirian
Engkau mengawasiku dalam segala keadaan
Dimana orang lain mencari – cari kesenangan
Dimana orang lain hanyut dalam kemegahan

Ku bersyukur karena hamba dapat merasakan manisnya diinul Islam
Islam yang selalu ku banggakan
Islam yang kan s’lalu ku pertahankan
Karena Islam pula hamba dapat mengetahui betapa Maha Kuasa Engkau
Betapa Maha Indahnya Engkau, betapa Maha Kaya Engkau ya Alloh

Hamba tak pantas dan tak lanyak untuk sombong
Karena Engkaulah pemilik segala yang ada di dunia
Dari mana ku dapat sombong ya Alloh
Astaghfirullohal’adziim …….

Terdengar lantunan indah dari mulut hamba – Mu
Dan hati ini bergetar disaat Al – Qu’an berkumandang
Apakah ini nikmat yang Engkau berikan ?

Ku memohon agar hati ini s’lalu terjaga dari segala kemaksiatan
Ku memohon agar diri ini s’lalu terhindar dari nafsu syaithon

Ku rasakan gemericik air hujan di sore hari
Ku balut hati ini dengan rasa syukur tiada henti
Engkau beri kami banyak rizki, maka jadikan kami hamba – Mu yang selalu taat dalam segala kondisi
Kuatkan s’lau iman dihati ini yaa Alloh
Kuatkan juga iman orang – orang yang hamba sanyangi
Terimakasih, segala puji hanya milik – Mu yaa Alloh Rabbul’izzati




Diiringi gemerik air hujan di sore hari, sawangan, 26 September 2010/ 17 Syawal 1431 H. Pukul 17.11

Jumat, 22 Oktober 2010

Pentingnya Tiga Pilar dalam Islam

Islam merupakan agama yang diridhoi oleh Allah SWT. didalamnya terkandung pondasi yang menjadi dasar bagi setiap umatnya. Jika pondasi itu tidak kuat atau bahkan tidak ada maka niscaya hidup kitapun akan jauh dari kebenaran. Ketiga pondasi yaitu Aqidah, Syariah, dan Akhlaq. Kedudukan aqidah dalam ajaran Islam sangat penting, karena tanpa aqidah Islam tidak dapat ditegakkan. Substansi dari aqidah adalah keimanan, sebagaimana terangkum dalam Rukun Iman, atau pokok – pokok keimanan Islam, yaitu iman kepada Allah, iman kepada para Malaikat, iman kepada kitab – kitab, iman kepada Nabi dan Rasul, iman kepada kepada hari akhir, dan iman kepada qadha qadar. Iman merupakan dasar  dari ajaran Islam, mengingat iman adalah perjanjian dalam hati sehingga iman setiap muslim tidak dapat dilihat secara kasat mata. Namun iman berfungsi sebagai fondasi dalam hidup seorang muslim. Seseorang yang telah mengaku beriman, selanjutnya diminta untuk menjaga keimanannya dan akan terlihat melalui tindakan nyata melalui kesanggupannya untuk mematuhi ketentuan syariah yang ditetapkan oleh Allah SWT, yaitu dengan cara melaksanakan semua perintah – Nya, dan menjauhi semua larangan – Nya.
Selanjutnya syariah yang artinya jalan yang ditempuh atau garis yang seharusnya dilalui. Maksudnya pokok – pokok aturan hukum yang digariskan oleh Allah SWT untuk dipatuhi dan dilalui oleh seorang muslim dalam menjalani segala aktivitas hidupnya (ibadah) didunia. Semua aktivitas kehidupan seperti sholat, jual beli, bekerja, memasak, belajar, dan lain sebagainya adalah merupakan ibadah sepanjang diniatkan untuk mencari ridho Allah.   
Islam bukan agama sejarah, maka Islam tidak tunduk oleh perubahan zaman, dalam syariah misalnya, hukum – hukum Islam bersifat final. Khamar dan riba haram sejak abad ke- 7 dan tetap haram sampai kiamat. Begitu juga sholat itu diwajibkan kapan saja, meskipun zaman berubah. Nikah adalah sunah nabi, maka umat Islam dianjurkan untuk menikah jika sudah siap lahir dan bathin. Oleh karenanya, dalam hal ekonomi syariah misalnya, kaum muslim tetap mengacu kepada ketentuan – ketentuan yang telah ditetapkan oleh Rasulullah SAW. Bukan hanya secara prinsipnya, tetapi juga tentang seluk – beluk tata perekonomian syariah. Hal yang berubah dalam bidang perekonomian bukanlah prinsip dan tata aturannya, tetapi yang berubah adalah sarana dan prasarana transaksinya.
Yang terakhir menjadi dasar pondasi Islam adalah akhlaq. Akhlaq dalam Islam mengatur hubungan manusia dengan Allah, Rasul, sesama manusia dan alam serta dengan diri kita sendiri. Dan akhlaq juga sangat penting yang harus ada dan melekat pada seorang muslim. Kesesuaian dan keselarasan antara aqidah, syariah, dan akhlaq dapat kita lihat dalam hadits Rasul. " Tidak beriman orang yang tertidur dalam keadaan kenyang sementara tetangganya tudak bisa tidur karena lapar. " (HR. Bukhari dan Al – Hakim)
Dalam perekomian Islam pun tidak bisa dipisahkan dengan ketiga pilar diatas. Karena ketiganya merupakan inti dari ajaran Islam. Seorang ekonom, guru, dosen, pengusaha, pengacara, akuntan, bankir, direktur, dan profesi lainnya dituntut untuk memiliki aqidah yang kuat, mampu memahami syariah dengan komprehensif, serta memiliki akhlaqul karimah sehingga dalam kehidupan yang dilakukan oleh seorang muslim dapat melakukan segala amal ibadah dengan ikhlas yakni untuk mengharap ridho Allah SWT, yang kemudian dilanjutkan dengan olah pikir yang didasari dan dijiwai oleh nilai aqidah, syariah, dan Akhlaq Islami untuk kebaikan manusia dunia dan akhirat. Wallahua'lam.  

Harta Dalam Kacamata Islam


Harta (maal) merupakan segala sesuatu yang disukai manusia secara fitrah dan dapat dimanfaatkan secara syar’i ( sah dan legal ). Harta adalah amanah dari Allah SWT. yang diberikan kepada manusia untuk dijaga dan dimanfaatkan. Sebagai seorang muslim dan mukmin dalam mengarungi samudra kehidupan ini tentu kita memerlukan bekal untuk beribadah kepada Allah SWT. Konsep kepemilikan harta dalam Islam sudah diatur begitu rapi dalam syariat. Begitu juga dengan tujuan kepemilikan harta tersebut. Perlu diketahui bahwa pandangan Islam terhadap harta berbeda jauh dengan pandangan kapitalis maupun sosialis. Dr. Yusuf Qardhawi  menjelaskan bahwa Islam dalam menyikapi harta bersifat tengah – tengah yaitu Islam tidak condong kepada paham yang menolak dunia secara mutlak, yang menganggap dunia adalah sumber kejahatan yang harus dilenyapkan dan Islam juga tidak condong kepada paham yang menjadikan dunia sebagai tujuan akhir, sesembahan, dan pujian.
Islam tidak menganut salah satu dari paham diatas, dan tetap bersikap moderat (jalan tengah) dalam memandang dunia. Bagi umat Islam, dunia bagaikan kebun untuk kehidupan akhirat kelak. Dunia adalah jalan menuju tempat yang lebih kekal.
Dalam menilai seseorang kita tidak dibenarkan melihat dari hartanya. Belum tentu orang kaya itu lebih mulia dari pada orang miskin ataupun sebaliknya. Banyak orang salah persepsi tentang hal ini. Harta hanyalah kenikmatan dari Allah SWT sebagai ujian bagi hamba – Nya, apakah dengan haarta itu mereka bersyukur atau menjadi kufur. Sebagaimana firman -  Nya dalam QS. Al- Anfal : 28 yang artinya : “ Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak – anakmu itu hanyalah sebagai ujian (cobaan) dan sesungguhnya disisi Allah ada pahala yang besar.” Jelaslah bahwa sebenarnya baik kelapangan harta maupun kesempitan harta merupakan cobaan dari Tuhan untuk manusia, bukan suatu hinaan atau pujian.
Dalam Islam sendiri harta yang kita miliki adalah mutlak milik Allah. Tidak ada satupun yang mengklaim harta yang ia miliki adalah murni dari hasil kerja kerasnya. Kita harus tahu Dialah yang menciptakan meteri, Dialah yang menundukkan meteri itu untuk dimanfaatkan manusia, dan Dia pula yang memberikan manusia kekuatan untuk mendayagunakan materi itu. Seorang mukmin memang boleh memiliki harta, tapi ia  tidak boleh dikuasai oleh harta. Ia boleh menguasai dunia, tetapi tidak boleh dikuasai oleh dunia. Dunia dan harta digengggam dalam telapak tangannya dan tidak sedikitpun diberi tempat dalam hatinya. Baginya dunia adalah sarana bukan menjadi tujuan dan tujuan yang hakiki adalah kelak kehidupan di akhirat.
Menurut Imam Ghazali, ada dua cara pemilikan harta. Pertama, cara yang diridhai oleh pemiliknya artinya tidak ada masalah karena kedua belah pihak ikhlas, sedangkan yang kedua adalah tidak diridhai pemiliknya yang ini akan menjauhkan kita dari keberkahan harta tersebut dan akan mengurangi pahala dari kegunaannya.
Dalam Islam sendiri mengenai bagaimana harta itu terdistribusi dengan baik pun sudah diatur dalam Al- Qur’an dan As – Sunnah. Bagaimana harta itu agar tidak dinikmati oleh orang kaya saja akan tetapi orang yang dibawah merekapun dapat menikmatinya. Maka dalam Islam dikenal dengan adanya ZISWAF ( Zakat, Infaq, Shadaqah, dan Wakaf ). Dan ini mencerminkan bahwa Islam adalah agama yang penuh kasih sayang. Orang yang berhak menerima (mustahiq) pun sudah dijelaskan dalam Al- Qur’an artinya pendistribusian harta itu sudah jelas arahnya. Yang diharapkan semua manusia baik kaya ataupun miskin dapat hidup dengan terpenuhinya kebutuhan hidup mereka sehingga lebih terpacu kembali ibadah mereka kepada Allah SWT.
Dengan pemahaman Islam yang benar ini, yaitu bahwa harta ini adalah mutlak milik Allah SWT, maka usaha mereka untuk beribadah dan mencari Ridho – Nya sangat gigih. Kita tengok sejarah pada zaman Rasulullah SAW lahirlah pedagang – pedagang yang sukses dan orang kaya dari kalangan sahabat seperti Ibnu Auf dan Ibnu Affan. Ada pula yang hidup sederhana dan zuhud, seperti Abud Darda dan Salman. Namun semuanya bersatu dan bersama – sama mengemban amanat suci menyebarkan syariat Islam ke seluruh pelosok dunia dan inilah dunia mereka.
Islam sangat melindungi harta yang halal artinya yang didapat sesuai dengan yang telah digariskan dalam agama Islam. Islam memperingatkan setiap orang yang merongrong hak milik orang lain dengan azab yang pedih , terlebih lagi kalau pemilik harta itu adalah kaum lemah, seperti anak yatim atau wanita. Dalam Islam juga menjaga harta adalah wajib walaupun harus dengan mengangkat senjata dan mengucurkan darah.
Sekarang banyak orang yang sudah diberi kecukupan harta oleh Allah SWT,tapi banyak pula orang yang kufur aakan nikmat itu. Mereka lebih suka membelanjakan harta mereka untuk hal – hal yang kurang bermanfaat. Apakah kita hanya hidup untuk di dunia saja ataukah kita yakin bahwa ada kehidupan kelak di akhirat. Harta yang kita infaqkan dan kita shodaqohkan insayaAllah kelak akan menjadi amalan tersendiri di sisi –Nya. Jangan pernah berfikir bahwa harta yang kita miliki akan cepat habis atau bahkan kita takut jika hari ini kita tidak mempunyai harta sedikitpun. Maka perlu dipupuk dan ditumbuhkan sikap qonaah artinya menerima apa yang diberikan oleh Allah SWT dan merasa cukup dengan harta yang ada pada kita serta yang lebih penting adalah tetap sabar dan syukur.
Sekali lagi bahwa harta (maal) adalah titipan dari Allah SWT.kepada kita yang harus kita jaga dan kita manfaatkan sesuai dengan aturan yang telah digariskan dalam syariat dan jangan sampai kita keluar dari garis tersebut. Saat ini harta yang telah ada di tangan kita bagaimana kita dapat menjadikan lebih bermanfaat dan lebih berkah. Karena ingat kelak di akhirat kita akan mempertanggungjawabkan harta yang kita miliki dihadapan Allah SWT.  Akhirnya kepada Allah lah kita kembalikan semua urusan dan hanya kepada –Nya kita bertawakkal. Wallohua’lam.

Rabu, 20 Oktober 2010

Untaian puisi untuk saudaraku di Palestina

“ Celoteh Mujahid Kecil ”
Kala fajar menampakkan cahayanya
Ku berlari – lari mencari saudaraku
Kala kicauan burung terdengar syahdu
Ku berteriak untuk mencacimaki zionis la’natullah

Dentuman bom memecah keheningan negeri yang dirahmati
Selongsong peluru mulai mencari mangsa
Mangsa orang – orang yang bertauhid kepada ILLAHI Rabbi

Aku tak takut dan tak pantang mundur
Melihat tenk – tenk biadab Zionis di hadapanku
Aku pun tak ciut nyali
Saat mereka menembak ke arahku

Negeriku menyambut seruan ILLAHI
Negeriku mendapat panggilan suci
Panggilan untuk berjihad di jalan – Nya

Aku yakin bahwa Allah akan menolong negeriku
Aku pun yakin Dia akan menunjukkan kuasa – Nya kepada orang Yahudi
Bahwa negeri Palestina akan mendapat kemenangan hakiki
Bahwa negeriku akan mendapat kemenangan sejati

Sabtu, 16 Oktober 2010

Belajar Dari Seekor Semut


Dalam Al- Qur’an Allah SWT berfirman yang artinya: “ Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari ". ( Q.S  An – Naml : 18 ). Allah SWT menciptakan segala di bumi ini tidak kebetulan. Dia pasti mempunyai tujuan dalam penciptaan setiap makhluknya. Udara, air, tanah, bahkan api pun mempunyai manfaat bagi manusia. Begitu juga Allah Azza wajalla menciptakan seekor semut sebagai contoh kecil disamping begitu banyak contoh – contoh yang lain disekitar kita. Subhanallah, kehidupan semut yang terdiri dari koloni dan kelompok membuat hidup mereka tentram dan damai. Ketika salah satu mereka melihat makanan, ia tidak mengambil buat dirinya sendiri, melainkan memanggil temannya untuk membantu membawa makanan itu ke sarangnya.
Kita juga dapat melihat alangkah indah persaudaraan mereka. Setiap berpapasan dengan semut yang lain bisa kita katakan mereka selalu bersalamaan dan saling menegur. Hal ini mencerminkan sebuah ukhuwwah yang sangat bagus. Mereka juga sangat patuh terhadap pemimpin yang telah mereka tunjuk. Seperti yang terjadi pada zaman Nabi Sulaiman a.s yang diabadikan dalam Al- Qur’an dimana beliau dianugrahi mu’jizat yaitu dapat berbicara dengan binatang. Salah satunya beliau mengerti percakapan hewan kecil ini ketika beliau hendak melintasi sebuah daerah dengan bala tentaranya yang kebetulan jalan yang beliau lewati sedang ada kawanan semut yang sedang mencari makanan. Pemimpin mereka (para semut) menyuruh kawanan semut yang lain untuk masuk ke dalam rumah agar tidak diinjak oleh rombongan Nabi Sulaiman a.s dan tanpa pikir panjang mereka mengikuti apa yang telah diinstruksikan dan tidak ada satupun yang masih berada diluar rumah. Mereka tahu dan yakin apa yang disuruh oleh seorang pemimpin harus dipatuhi sejauh perintah itu tidak bertujuan untuk maksiat.
Allah Dzat yang Maha Kuasa dan Bijaksana telah menciptakan seekor semut yang kita tahu tubuhnya sangat kecil dan didalamnya mempunyai susunan organ yang sangat menakjubkan tidak lain adalah agar kita dapat mengambil ‘ibroh (pelajaran) dari makhluk Allah tersebut. Manusia yang diciptakan Allah dalam bentuk yang sebaik – baiknya seharusnya harus bisa berbuat lebih dari seekor semut. Firman Allah SWT dalam Al- Qur’an Surat At- Tin ayat :4 yang artinya “ Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik – baiknya “. Andaikan manusia dapat belajar dari semut, betapa indahnya hidup ini. Manusia akan tahu bahwa dirinya sangat dibutuhkan oleh orang lain. Sikap tolong – menolong pun akan tumbuh bersemi disekitar kita. Seluruh masyarakat akan memperoleh kesejahteraan karena membuang jauh sikap ananiyah ( egois) dan lebih mementingkan saudaranya dari pada dirinya sendiri. Negara ini akan memperoleh maslahah jika dipimpin oleh seorang yang amanah dan mempunyai haibah (wibawa) dalam kepemimpinannya. Dan alangkah harmonis jika kita bertemu dengan saudara, teman, guru, dan orang yang kita kenal dimulai dengan senyum dan salam. Banyak orang yang cuek dengan masalah ini karena mereka tidak tahu bahwa dunia ini akan damai dan tentram jika penghuninya yaitu manusia dapat mencontoh seekor semut. Karena sekali lagi Allah Dzat yang Maha Kuasa dan Maha Bijaksana telah menjadikan apa yang ada disekitar kita adalah untuk kemaslahatan hidup manusia. Wallahua’lam.

Kamis, 14 Oktober 2010

Sekapur Sirih

“ Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al ‘Ashr ayat 1-3)

Saudaraku, jangan kita bersedih dan menyesal ketika kita gagal dalam suatu urusan. Yakinlah bahwa semua ini adalah yang terbaik dari Alloh SWT. Tetap berusaha dan senantiasa mendekatkan diri kepada – Nya.